PTC (Paid To Click) - Klik Dapet Uang

In Bali Life is Meditation

In Bali Life is Meditation

2011-02-28
oleh Wayan Agus Yudiana

Siapa yang tidak mengenal Bali, sebuah pulau kecil di antara ribuan pulau, di sebuah negeri indah di katulistiwa bernama Indonesia. Pulau kecil berjuluk Pulau Dewata, karena adat, budaya dan keseniannya yang semuanya membaur dengan nilai-nilai spiritual dan filosofis, yang menghasilkan kekuatan yang mampu menyihir para wisatawan baik domestik maupun manca negara untuk setidaknya menikmati hasil karya-karya keindahan dari pulau ini. Ribuan Pura sebagai tempat suci masyarakat Bali, yang tersebar di berbagai tempat, dari gunung hingga lautan, dari sawah, ladang, sungai hingga perbukitan, semua menambah poin of interest dari alamnya, yang sesungguhnya sudah sangat mempesona. Sebut saja Uluwatu atau Tanah Lot, sebuah tanjung dan teluk yang dihiasi dengan keindahan Meru(pagoda/candi) dari pura, yang saat senja memerah, menghasilkan komposisi keindahan yang sungguh sangat mempesona. Belum lagi berbagai macam upacara dan ritual yang dihiasi dengan berbagai karya seni, yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan ritual itu sendiri. Dan semua ritual tersebut dilaksanakan hampir setiap hari, di berbagai tempat di Bali. Dari hal-hal kecil, seperti ritual setelah masak yang dilakukan setiap hari, sampai upacara Eka Dasa Ludra yang diadakan di Pura Besakih setiap 100 tahun sekali. Dari upacara kecil saat mulai mencangkul di sawah, mulai berjualan di pasar, atau upacara untuk setiap langkah pembangunan rumah(bikin dasar,  bikin tembok penyengker, membangun sampai masang atap), persembahan setiap 15 hari sekarali saat bulan purnama dan bulan mati, sampai euforia Galungan dan Kuningan dalam jangka waktu 10 hari, setiap enam bulan sekali. Kewajiban atas berbagai ritual itu pulalah yang membuat masyarakat Bali tak bisa terlepas dari kegiatan Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan semua hal yang kita kenal dan bisa kita nikmati saat ini sebagai kesenian atau budaya, pada awalnya sesungguhnya hanya diperuntukan untuk mengungkapkan rasa Bhakti kehadapan Yang Kuasa, tanpa unsur komersil untuk dijual sebagai komoditi wisata. Bahkan kata kesenian itu sendiri adalah kata yang awalnya tidak dikenal oleh tetua di Bali, dan saat ditanya kenapa para tetua itu melakukan apa yang kita kenal dengan kesenian mereka hanya menjawab : “Tidak semua kami mengerti, namun satu hal yang jelas, semua kami lakukan sebagai serangkaian persembahan”. Semuanya menyatu dalam kehidupan. Sebagai contoh ungkapan Matur Suksema yang artinya Menghaturkan Jiwa, bahkan jiwa ini pun dipersembahkan. Mungkin ini pula yang disebut oleh Kahlil Gibran dalam The Prophet “Your Life is Your True Temple”. Hidupmulah Ibadahmu sesungguhnya.



Sebagai seorang putra bali yang mencari penghidupan di luar Bali, tentu akan sering mendapat pertanyaan-pertanyaan mengenai semua hal, baik itu ritual maupun kehidupan sosial masyarakat Bali. Mulai dari pertanyaan yang sebatas ingin tahu saja, sampai pertanyaan yang berusaha menyudutkan, karena tidak sesuai dengan apa yang penanya pahami dari keyakinan mereka. Sebagai contoh yang paling sering adalah mengenai bagai mana masyarakat Bali menghormati dengan menghaturkan berbagai persembahan atau upakara di tempat-tempat seperti pepohonan atau bahkan benda mati seperti batu atau benda benda pusaka. Kita bisa saja menjawab hanya dari sudut pandang kita sebagai orang Bali, bahwa semua itu kita lakukan untuk menjaga hubungan kita dengan alam atau penghormatan terhadap ciptaan Tuhan. Tapi skali lagi semasih jawaban berasal dari sudut pandang yang berbeda, jawaban itu akan tetap menjadi bulan-bulanan dengan disusul oleh pertanyaan-pertanyaan berikutnya.



Saya teringat sebuah nasehat dari Ketut Liyer kepada Elisabeth Gilbert, dalam buku Eat Pray and Love : “Saat ada orang yang berdebat denganmu tentang Tuhan, katakan saja: saya setuju dengan anda, kemudian pulang dan berdoalah dengan cara yang kemu yakini”. Kutipan ini, buat saya, tidak hanya sikap cuek atau pernyataan untuk melarikan diri dari perdebatan atau pertikaian, namun juga mengandung pemahaman yang sungguh mendalam tentang Ketuhanan atau Spiritual. Ada dua poin penting yang tersirat di dalamnya, yaitu “Saya setuju dengan (apa yang) anda (katakan tentang Tuhan)” dan “Pulang, lalu berdoa dengan cara yang kita yakini(tentang Tuhan)”. Arti poin pertama adalah kita menyetujui apapun yang orang lain katakan tentang Tuhan-nya, dan poin ke dua, kita juga punya pemahaman sendiri tentang Dia, dan tentu saja kita pasti setuju dengan apa yang kita pahami dan yakini. Di sini saya sadar bahwa nasehat tadi mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan adalah Segalanya, termasuk apa yang dipahami orang lain, dan apa yang kita pahami sendiri, yang tentunya berbeda. Karena sesungguhnya Dia ada dalam segala kondisi, baik yang masih dalam ruang lingkup jangkauan pemahaman pikiran manusia, maupun kondisi di luar apa yang manusia bisa pahami.



Lalu apa hubungan pemahaman di atas dengan kehidupan masyarakat bali dengan ritual-ritualnya? dan apa pula hubungannya dengan Meditasi, seperti judul dari tulisan ini? Menurut pemahaman saya, meditasi adalah upaya kita untuk mengistirahatkan pikiran kita dari hal-hal dan keinginan-keinginan duniawi sehingga kita bisa masuk ke dalam kondisi Kosong/Sunya, agar energi Ketuhanan/Spiritual/Kosmik bisa leluasa masuk dan memberikan kita pemahaman-pemahaman sebagai tuntunan kita untuk mencapai Kebahagiaan Yang Sejati, melalui pengendalian pikiran sehingga selalu selaras dan seimbang. Untuk itulah para Tetua kita di Bali, dengan cerdiknya, membangun sebuah pondasi kehidupan yang membuat kita, dimanapun dan kapanpun juga, mengisi setiap sisi kehidupan dengan pemahaman bahwa Segalanya adalah Tuhan dan Tuhan adalah Segalanya, seperti apa yang tersirat dalam nasehat dari Ketut Liyer di atas. Baik saat kita melihat binatang, pepohonan, sungai, gunung, laut,batu maupun melihat setiap umat manusia lainnya. Dengan demikian dengan sendirinya, bahkan tanpa kita sadari, kita telah melakukan meditasi dalam setiap sisi kehidupan, dengan lebih banyak melepaskan diri kita (pikiran perkataan dan perbuatan) dari hal-hal dunia dengan mengisi diri kita(pikiran,perkataan dan perbuatan) dengan hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan yang akan memperlancar energi Spiritual masuk kedalam Sang Diri untuk memperoleh kehidupan yang seimbang. Dan semua kegiatan Bhakti tersebut akan lebih indah jika diimplementasikan dalam bentuk kesenian, karena dengan seni kita bisa selalu membawa pikiran dan perbuatan kita dalam dimensi Keindahan.



In Bali Life is Meditation (Everything/where/time is God, and God is Everything/where/time).



Note: saya sengaja tidak membawa label Hindu di sini, karena saya ingin mengingatkan lagi bahwa sesungguhnya Bali merupakan perpaduan dari berbagai unsur filosofis, seperti Siwa, Buddha, Tantra bahkan Zen dengan menitik beratkan pada usaha untuk melatih Mind manusia (Meditation) untuk selalu mencapai keseimbangan dan keselarasan dalam kondisi apapun juga, yang membaur di bali menjadi konsep Rwabinedha. Pertanyaannya sudahkah kita menyadarinya? :)



Semoga Bermanfaat.
Penulis adalah praktisi IT yang tinggal di Jakarta
Tulisan-tulisan lainnya bisa dibaca di www.co-that.com

0 kirim komentar:

Post a Comment

kirim komentar anda

PTC Program - Anda dibayar tiap klik iklan, Penghasilan tambahan lumayan.