Kapitayan Nuswantara - Pande Wesi

Kapitayan Nuswantara

Keris dan tosan aji serta senjata tradisional lainnya menjadi khasanah budaya Indonesia, tentunya setelah nenek moyang kita mengenal besi. Berbagai bangunan candi batu yang dibangun pada zaman sebelum abad ke-10 membuktikan bahwa Jawa Dwipa pada waktu itu... telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi. Namun apakah ketika itu bangsa Indonesia mengenal budaya keris sebagaimana yang kita kenal sekarang, para ahli baru dapat meraba-raba. Gambar timbul (relief) paling kuno yang memperlihatkan peralatan besi terdapat pada prasasti batu yang ditemukan di Desa Dakuwu, di daerah Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Melihat bentuk tulisannya,  diperkirakan prasasti tersebut dibuat pada sekitar tahun 500 Masehi. Huruf yang digunakan, huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sanskerta. Prasasti itu menyebutkan tentang adanya sebuah mata air yang bersih dan jernih. Di atas tulisan prasasti itu ada beberapa gambar, di antaranya: trisula, kapak, sabit kudi, dan belati atau pisau yang bentuknya amat mirip dengan keris buatan Nyi Sombro, seorang empu wanita dari zaman Pajajaran. Ada pula terlukis kendi, kalasangka, dan bunga teratai. Kendi dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu pengetahuan, kalasangka melambangkan keabadian, sedangkan bunga teratai lambang harmoni dengan alam. Gambar timbul mengenai cara pembuatan keris, dapat disaksikan di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada candra sengkala memet di candi itu, terbaca angka tahun 1316 Saka atau 1439 Masehi Cara pembuatan keris yang digambarkan di candi itu tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan keris keris pada zaman sekarang. Baik peralatan kerja, palu dan ububan, maupun hasil karyanya berupa keris, tombak, kudi, dll     di Jawa Dwipa, teori-teori yang dikemukakan oleh ahlie Manca itu banyak sekali kekurangan pendalaman, dan terkadang bahkan tidak logis. Satu hal yang tidak ‘tertangkap’ dalam alam pikir para Manca, adalah bahwa keris dibuat tokoh (para empu) sama sekali bukan dengan maksud untuk digunakan sebagai alat pembunuh. Banyak yang ditulis Manca menyebut keris sebagai salah satu senjata tikam atau stabbing weapons. Manca pada umumnya memberi kesan bahwa keris serupa atau sama saja dengan belati atau ponyard (poignard). Padahal ada perbedaan sangat besar dan mendasar di antara mereka. Belati, sangkur, atau poyard memang sengaja dibuat untuk menusuk lawan, melukai atau membunuhnya, sedangkan keris tidak. Keris dibuat terutama untuk digunakan sebagai pusaka (pusat karsa) atau sipat kandel .   ''Faktor pokok utama justru ada dalam kapribaden Sang Pandai Wesi''   Seorang pandai besi, misalnya, boleh jadi memang cukup aman berdekatan dan bermain dengan api yang ada di tungku peleburannya, namun tidak bagi kita. Bagi kita, itu bukan saja tidak aman, namun juga tidak nyaman. Apakah sang pandai besi tak merasakan ketidak nyamanan yang sama? Tidak juga; ia juga merasa sumuk, gerah; akan tetapi, ia telah terbiasa dalam kondisi fisikal seperti itu. Ia, karena terbiasa, telah membentuk ketahanan fisikal dan punya keterampilannya itu lan kabeh iku ''wit ing triisna jalaran saka kulina".   Menggunakan saloka itu, kita dapat melihat lebih jelas bahwasanya ‘jarak aman’ dari setiap orang berbeda-beda. Demikian juga rasa nyaman bagi masing-masing orang. Rasa aman dan rasa nyaman, berkaitan erat satu sama lain. Bagusnya, keduanya ternyata bisa dibentuk, bisa dikondisikan dan bisa dikembangkan melalui pembiasan (abhiyasa). Pradigma serupa dapat disaksikan dengan mudah di sekitaran.   Seolah-olah telah menjadi alur alami, bila rasa berlebih tak bisa dihindarkan secara serentak dengan rasio. Mereka hadir bergantian dan harus diselaraskan. Mungkin inilah yang disebut sebagai fungsi dari otak kiri dan otak kanan, oleh para neurolog. Seolah-olah dikodratkan untuk rawan terhadap -- apa yang disebut sebagai -- split-personality oleh para psikolog dan psikiater. Betapapun juga niat membantu memecahkan suatu permasalahan pribadi maupun sosial, adalah niat yang terpuji. Namun, untuk bisa benar-benar melakukannya, kita mutlak perlu membekali-diri secukupnya. Kita bukan saja perlu berpengetahuan, namun juga berketerampilan memadai. Dalam keterampilan inilah ketahanan mental psikologis -- seperti yang dipunyai oleh Pandai Wesi itu -- itu ditemukan         Yang mampu menghasilkan solusi yang tepat, tentunya ‘Sang Pandai Wesi’. Sebatang wesi yang masih keras, yang belum sepenuhnya dapat dibentuk, dipanasinya bara geni dahulu dalam tanur perapen-nya. Setelah cukup lunak, barulah dilakukan penempaan dan pembentukan. Proses pemanasan, pembakaran di perapen, merupakan pengibaratan dan laku tapa-barata. Disamping memurnikan dan melunakkan juga meluweskan diri dalam berbagai sikon yang ada mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas djati diri, tapa-barata juga membentuk suatu ketahanan fisik-biologis dan mental-psikologis, dengan mana kita sanggup menghadapi segala permasalahan menuju batara.   Tapa-brata membantu kita untuk dapat melihat diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Ia membantu kita untuk memahami bahwasanya secara struktural dan fundamental kita tak ada bedanya satu dengan yang lainnya. Secara jasmani bisa saja berbeda jender dan wujud fisikal dengan sy. Namun, hingga batas-batas tertentu paradigma dan fenomena mental psikologis kita serupa benar. Hanya bagi yang telah benar-benar dapat melihat diri pribadinya sebagai tak ada bedanya secara mental-psikologis dan spirit dengan manusia lainlah yang mungkin dapat benar-benar membantu memecahkan berbagai persoalan manusia yang tiada habis-habisnya ini. Adanya perbedaan jasmaniah, keturunan, ras, jender dan lain sebagainya hanyalah karena kita terlahir di alam Mayapada ini. Segala perbedaan yang tampak secara superfisial maupun metafisikal, bukanlah sesuatu yang dapat dipegang sebagai Kasunyataan, sejauh mereka hanya pengeliruan yang disebabkan oleh Maya           Girimanik merupakan kawasan wisata alam yang berudara sejuk dengan panorama alam yang sangat indah. Di kawasan wisata ini terdapat tiga buah air terjun yang dinamakan Air Terjun Manik Moyo, Tinjo Moyo, serta Condromoyo. Air Terjun Manik Moyo mempunyi ketinggian 70 meter sedangkan Air Terjun Tinjo Moyo mempunyai ketinggian 30 meter. Tidak jauh dari Air Terjun Manik Moyo terdapat sebuah tempat sakral peninggalan atau petilasan Raden Mas Said yang dikenal dengan nama Batu Resi atau Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Cetho. Daerah wisata ini berlokasi di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri yang berjarak dari pusat kota sekitar 40 km.   Gunung TeloMoyo terletak di kak gunung telomoyo dan daerahnya juga terjal.jika ditilik lebih lanjut, penamaan sebuah prasasti bisa karena penemu, nama desa tersebut, informasi dari prasasati tersebut atau peristiwa. keberadaan prasasti ngrawan tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum. hal ini diakibatkan karena lokasi yang sulit dijangkau karena akses jalan yang kurang memadai disamping dengan informasi mengenai prasasti ngrawan yang belum mengemuka dikalangan masyarakat umum. namun, sampai sekarang ketika penulis datang kesana belum ada kejelasan mengenai isi prasasti tersebut. namun yang pasti dalam prasasti hanya berisikan simbol-simbol mengenai dewa siwa. kemungkinan tempat ini digunakan sebagai pemujaan kepada dewa siwa. hal ini dapat dilihat dari benda-benda yang ada di sekitarnya seperti lingga yang belum sempurna pengerjaanya, disekitanya juga terdapat benda-benda yang mendukung bahwa daerah itu sebagai daerah pemujaan kepada dewa siwa.         Disaat mata memandang lereng-lereng Gunung Telomoyo, akan terlihat beberapa cekungan dan lembah yang menunjukan ada apa ditengah-tengahnya. Sesekali akan terdengar suara gemericik air yang lama-lama terdengar semakin deras. Kumpulan dari mata air yang mengalir menjadi sebuah sungai dan berhenti disebuah patahan lalu terjun bebas. Suguhan air terjun selalu hadir disemua sisi gunung ini, dimana segar dan jernihnya air menjadi pemikatnya. Ada beberapa air terjun seperti; Sumuran, Sekar langit, Kali Pancur dan lain sebagianya yang semuanya berasal dari lereng Telomoyo. Lebih menarik lagi disepanjang jalan menuju puncak, jika beruntung akan menemukan tanaman unik yakni kantong semar "Nephentes". Tanaman yang mulai langka di habitat aslinya masih bisa ditemukan  disisi jalan dan masih tumbuh alami. Sebuah gunung yang menurut saya sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan fungsi. selamat menikmati dan tetap santun setiap melangkahkan kaki.   http://unik.supericsun.com/sat u-satunya-kota-yang-dikelilingi-5-gunung     "Peninggalan para Pandai"   Di Nusantara, kita sebetulnya telah diwarisi “Bhineka Tunggal Ika”. pernah berhasil mempersatukan bangsa selama berabad-abad, namun juga masih ampuh di era global ini. Bapak dan para pendahulu bangsa telah membuktikan keampuhannya ini hadir dari seorang ‘Pandai Wesi’, seorang Mpu. Melalui penempaan diri dan penggalian yang sedemikian dalam ke lubuk hatinya yang paling dalam, Mpu Tantular memunculkannya di permukaan lewat masterpiece-nya -- Sutasoma.   Terlepas dari apakah Tantular itu adalah nama asli beliau atau bukan, bisa dimaknai mempunyai Tatanan dalam satu persatuan melaui tutur tinular. Beliau telah mampu melihat segala sesuatunya sedemikian jelas dan jernihnya, beliau telah dapat melihat melalui ‘kacamata’ Kasunyataan. Beliau telah mencapai apa yang digambarkan dalam Gita sebagai “Dia yang berbuat dan telah melepaskan semua keterikatannya, mempersembahkan perbuatan-perbuatannya kepada Tuhan, bahkan tidak akan disentuh oleh dosa bagaikan daun tunjung (padma) yang tiada tersentuh oleh air”. [BC V – 10].   Melihat dan mengamati segala sesuatu yang di luar sana mungkin tidaklah begitu sulit, sejauh kita telah terbiasa mengarahkan perhatian ke luar. Namun kesulitan segera menghadang, bilamana hendak mengarahkan perhatian ke dalam. Padahal, untuk memahami diri-sendiri, hanya dimungkinkan lewat keFasihan dalam menarik perhatian ke dalarn ini. Gita mengibaratkan visi Sang Mpu ini sebagai yang penyu menarik anggota badannya ke dalam cangkangnya yang keras itu. Beliau menarik semua indriya dan segenap objek-objeknya, sehingga jiwanya mencapai kemurnian yang bijaksana”[BG II - 58].   Mengintip bagaimana Pandai Wesi bekerja, bagaimana ia melebur dan melunakkan kekerasan dan kekakuan wesi, menempa dan membentuknya menjadi berbagai peralatan yang berguna, memberi pelajaran yang sangat bermanfaat. Sesungguhnya, apapun di seputar kita bisa mengajari kita berbagai hal yang bermanfaat. Masalahnya hanya pada kemampuan melihat, untuk selanjutnya mengekstraksikan esensi yang bermanfaat bagi kehidupan. Bahan bakunya telah ada dan senantiasa adai, slap untuk diolah. Hanya karena masih ada ‘sesuatu’ yang menghalangi.   Al-Haddad (“pandai besi”). Disebut sebagai “pandai besi” karena ia “mam­pu melunakkan hati yang keras seperti besi” (hadatul qulub), berkat ketinggian ilmu dan kebijaksanaannya yang luar biasa.     Pada masa kecil Gatotkaca, yang bernama Bambang Tetuka sudah memiliki kekuatan luar biasa yakni tali pusarnya tidak bisa dipotong dengan senjata apapun, bahkan dengan Cakram milik Kresna dan Pulanggeni milik Arjuna juga tidak mempan. Konon hanya satu senjata yang bisa memotong yakni Kuntawijayadanu yang akan diturunkan oleh Dewa kepada Arjuna. Kuntawijayadanu dicuri oleh Suryatmaja (alias Karna semasa muda). Arjuna dapat merebut Warangka Kuntawijayadanu, setelah perang tanding dengan Suryatmaja. Dengan Warangka itu pusar Tetuka dapat dipotong. Setelah pusarnya dipotong maka Bambang Tetuka dijadikan jagoan oleh para Dewa untuk menghadapi penggempur kahyangan, yakni Patih Sekipu Mantra. Gatotkaca lalu dimasukkan oleh Bhatara Narada ke kawah Candradimuka bersama dengan berbagai pusaka baja kahyangan, sehingga saat keluar dari kawah Candradimuka, Gatotkaca kecil (Bambang Tetuka) yang tadinya masih berwujud raksasa menjadi kesatria yang gagah perkasa. Dari sinilah, kemudian, Gatotkaca menjadi berotot kawat dan bertulang besi. Gatotkaca juga diberi berbagai macam pusaka serta diberi nama "Raden Krincing Wesi"  dan Raden Krincing Wesi ini mengambil gelar "Prabu Anom Gathutkaca".       Alam takambang jadi guru – Alam terkembang jadi guru: pribahasa utama Minangkabau yang memiliki arti bahwa pribadi Minang harus DINAMIS dan bisa belajar dari alam. harus bisa menyesuaikan dan mengembangkan diri dimana saja ia berada.     Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. Candi ini juga tergolong kontroversial karena adanya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu yakni di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.     See More

0 kirim komentar:

Post a Comment

kirim komentar anda